Minggu, 29 April 2012

PENGELOLAAN KESEHATAN LINGKUNGAN BERKELANJUTAN DI KABUPATEN BANYUASIN


Judul
PENGELOLAAN KESEHATAN LINGKUNGAN BERKELANJUTAN DI KABUPATEN BANYUASIN











Nama  :
Metty Carina
Nim     : 20112510005













PROGRAM STUDI PENGELOLAAN LINGKUNGAN
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah SWT karena berkah, rahmat dan hidayanhnya,  penulis dapat diberikan kelancaran dan kemudahan dalam menyelesaikan makalah yang berjudul “Pengelolaan Kesehatan Lingkungan Berkelanjutan di Kabupaten Banyuasin”.
Keberhasilan penulisan makalah ini didukung oleh berbagai pihak. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Azhar, S.H., M.Sc., LL.M., LL.D.  selaku dosen pengampu Hukum Lingkungan.
Harapan saya makalah ini dapat dipergunakan dan dimanfaatkan untuk menambah ilmu pengetahuan mengenai Pengelolaan Kesehatan Lingkungan Berkelanjutan di Kabupaten Banyuasin, sebab salah satu yang menentukan derajat kesehatan masyarakat adalah lingkungan. Kualitas Lingkungan yang buruk dapat mengakibatkan gangguan kesehatan di masyarakat. Untuk itulah diperlukan suatu upaya yang mengarah pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat, salah satunya peningkatan kesehatan lingkungan.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Besar harapan penulis atas segala kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat.


Palembang,   November 2011


Penulis


PROGRAM STUDI PENGELOLAAN LINGKUNGAN
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2011

ABSTRAK

Metty Carina


PENGELOLAAN KESEHATAN LINGKUNGAN BERKELANJUTAN DI KABUPATEN BANYUASIN


Kesehatan Lingkungan menurut WHO (World Health Organization) adalah suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar bisa menjamin keadaan sehat dari manusia. Ruang lingkup kesehatan lingkungan diantaranya penyediaan air bersih /air minum, pengolahan dan pembuangan limbah cair, gas dan padat, pencegahan kebisingan, pencegahan penyakit bawaan air, udara, makanan, dan vektor, Pengelolaan kualitas lingkungan air, udara, makanan, pemukiman dan bahan berbahaya. Kualitas Lingkungan yang buruk dapat mengakibatkan gangguan kesehatan di masyarakat. Untuk itu perlu adanya pengelolaan kesehatan lingkungan yang berkelanjutan.
Wilayah Kabupaten Banyuasin yang sebagian besar merupakan daerah perairan yaitu rawa pasang surut  dan rawa lebak sangat berpotensi dan berisiko sebaran penyakit yang bersumber dari lingkungan, peningkatan junlah penduduk meingkatkan jumlah prodiksi kebutuhan meningkatkan pula jumlah limbah, akses air bersih yang masih dibawah standar Indonesia, dan permalsahan pemukiman, menuntut adanya keharusnya pengelolaan kesehatan lingkungan yang berkelnjutan secara terpadu dan tuntas.



Kata Kunci      : Kesehatan Lingkungan, Permasalahan, Upaya pengelolaan
Kepustakaan   :  9 ( 2003-2010)












DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL............................................................................................... i
KATA PENGANTAR............................................................................................ ii
ABSTRAK............................................................................................................... iii
DAFTAR ISI ........................................................................................................... iv
DAFTAR TABEL .................................................................................................. vi
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. vii
DAFTAR LAMPIRAN........................................................................................... viii

BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang .............................................................................................. 1
1.2  Tujuan............................................................................................................ 3
1.3  Permasalahan ................................................................................................. 4
1.4  Batasan .......................................................................................................... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA/PEMBAHASAN                                                                                  
2.1  Kesehatan Lingkungan ................................................................................. 5
2.1.1         Konsep dan Batasan Kesehatan Lingkungan................................... 5
2.1.2        Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan ........................................... 6
2.1.3        Sasaran Kesehatan Lingkungan......................................................... 8
2.1.4        Konsep hubungan Interaksi antara Agent-Host-Environment........... 8
2.1.5        Masalah-masalah Kesehatan Lingkungan di Indonesia .................... 10
2.1.6        Penyebab Masalah Kesehatan Lingkungan di Indonesia................... 16
2.1.7        Hubungan dan Pengaruh Kondisi Lingkungan terhadap Kesehatan
Masyarakat di Perkotaan dan Pedesaan............................................. 16
2.1.8    Kabupaten/Kota Sehat (Healthy City)............................................... 17
2.1.9    Interaksi Manusia dan Lingkungannya.............................................. 18




2.2   Pembahasan .................................................................................................. 20
2.2.1        Gambaran Kabupaten Banyuasin....................................................... 20
2.2.2        Pengelolaan Kesehatan Lingkungan berkelanjutan di Kabupaten
Banyuasin .......................................................................................... 24

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
3.1  Kesimpulan………………………………………………………………….36
3.2  Saran………………………………………………………………………...37



DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN















DAFTAR TABEL

Tabel 1. Beberapa penyakit beserta penyebab spesifiknya ....................................... 9
Tabel 2. Taraf Budaya, pola kesehatan lingkungan, pola penyakit, mortalitas dan
   fertilitas, tujuan pelayanan kesehatan dan status nutrisi............................. 19























DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Interaksi antara Agent, Host, dan Lingkungan
                  serta Model Ekologinya........................................................................... 8
Gambar 2. Peta wilayah kabupaten banyuasin........................................................... 20
Gambar 3. Bentang alam wilayah kabupaten banyuasin............................................ 22
Gambar 4. Kepadatan penduduk per kecamatan di Kabupaten banyuasin............... 23
Gambar 5. Akses air bersih penduduk di Kabupaten banyuasin............................... 26
Gambar 6. Sarana sanitasi dasar yang Dimilik dan yang sehata di Kab. banyuasin.. 23
Gambar 7. Kepadatan penduduk per kecamatan di Kabupaten banyuasin............... 23



















DAFTAR LAMPIRAN


1.      From laporan kegiatan penyediaan air bersih (PAB) per desa
2.      Form laporan sanitasi/sarana jamban keluarga (Jaga) per desa
3.      Form laporan kegiatan CLTS (community led total sanitation)
4.      Form laporan kegiatan saranan pengelolaan air limbah (SPAL) per desa
5.      Form laporan sanitasi/ tempat pembuangan sampah sementara (TPS) per desa
6.      Form laporan penyehatan perumahan (PLP)/rumah layak huni per puskesmas
7.      Form laporan kegiatan tempat-tempat umum (TTU) sarana wisata
8.      Form laporan tempat-tempat ibadah
9.      Form laporan kegiatan tempat-tempat umum (TTU) institusi sekolah
10.  Form laporan kegiatan tempat-tempat umum (TTU) sarana pusat perekonomian
11.  Form laporan kegiatan tempat-tempat umum (TTU) sarana kesehatan
12.  Form laporan kegiatan tempat pengelolaan makanan dan minuman (TPM)
13.  Form laporan kegiatan tempat pengelolaan dan penyimpanan pestisida (T2P pestisida)





 BAB I
PENDAHULUAN


1.1         Latar Belakang
Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang bertujan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Kesehatan yang merupakan hak dasar manusia menjadikan salah  satu aspek kualitas sumber daya manusia yang sangat penting. Sumber Daya Manusia (SDM) yang sehat secara jasmani dan rohani diharapkan menjadi manusia berkualitas sehingga bisa ikut berperan aktif dalam pembangunan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.
Hendrik L Blum mengemukakan teori bahwa  ada empat faktor yang mempengaruhi kesehatan masyarakat yaitu lingkungan, prilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan.  Lingkungan berpengaruh pada terjadinya suatu penyakit, dimana faktor lingkungan memberikan pengaruh dan peranan terbesar . Keempat faktor tersebut disamping berpengaruh langsung pada kesehatan juga saling berpengaruh satu sama lain. Kualitas Lingkungan yang buruk dapat mengakibatkan gangguan kesehatan di masyarakat. Tingginya angka kesakitan penyakit infeksi berbasis lingkungan masih merupakan masalah utama di Indonesia, sehingga diperlukan suatu upaya yang mengarah pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat, salah satunya peningkatan kesehatan lingkungan.
Lingkungan merupakan tempat pemukiman dengan segala sesuatunya dimana organismenya hidup beserta segala keadaan dan kondisi yang secara langsung maupun tidak dapat diduga ikut mempengaruhi tingkat kehidupan maupun kesehatan dari organisme itu ( Al. Slamet Riyadi, 1976 dalam dasar-dasar kesehatan lingkungan).
Kesehatan Lingkungan menurut WHO (World Health Organization) adalah suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar bisa menjamin keadaan sehat dari manusia. Ruang lingkup kesehatan lingkungan diantaranya penyediaan air bersih /air minum, pengolahan dan pembuangan limbah cair, gas dan padat, pencegahan kebisingan, pencegahan penyakit bawaan air, udara, makanan,  dan vektor, Pengelolaan kualitas lingkungan air, udara, makanan, pemukiman dan bahan berbahaya. Kesehatan lingkungan merupakan salah satu program dari enam usaha kesehatan dasar kesehatan masyarakat.  Kesehatan lingkungan ini sangat erat sekali hubungannya dengan kesehatan masyarakat. (Soemirat, 2009 : 6).
Menurut Ricki M Mulia dalam bukunya Kesehatan Lingkungan (2005)  bahwa keadaan Lingkungan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat. Banyak aspek kesejahteraan manusia dipengaruhi oleh lingkungan, dan banyak penyakit dapat dimulai, didukung, ditopang  atau dirangsang oleh faktor-faktor lingkungan.
Dalam pencapaian Indonesia Sehat, Lingkungan yang diharapkan bagi terwujudnya keadaan sehat bagi masyarakat yaitu lingkungan yang bebas dari polusi, tersedianya air bersih, sanitasi lingkungan yang memadai, perumahan dan pemukiman yang sehat, perencanaan kawasan yang berwawasan sehat (Hasyim, 2008).
Keberhasilan program kesehatan dan program pembangunan sosial ekonomi pada umumnya dapat dilihat dari peningkatan usia harapan hidup penduduk dari suatu negara. Meningkatnya perawatan kesehatan melalui Puskesmas, meningkatnya daya beli masyarakat akan meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan, mampu memenuhi kebutuhan gizi dan kalori, mampu mempunyai pendidikan yang lebih baik sehingga memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang memadai, yang pada gilirannya akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan memperpanjang usia harapan hidupnya  (Solihat, dkk. 2010).
Kabupaten Banyuasin adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan. Kabupaten ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Musi Banyuasin yang terbentuk berdasarkan UU No. 6 Tahun 2002. Dimana salah satu misinya Menciptakan pembangunan berwawasan lingkungan untuk menjamin keberlanjutan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin merupakan SKPD yang menyelenggarakan sistem kesehatan di Kabupaten Banyuasin, dimana salah satu program yang diselengarakan adalah Program Kesehatan Lingkungan Berkelanjutan yang diarahkan untuk pencapaian visi “Banyuasin Sehat dan Berkualitas Tahun 2013”. Berdasarkan gambaran tersebut penulis tertarik untuk menulis makalah yang berjudul “Pengelolaan Kesehatan Lingkungan Berkelanjutan di Kabupaten Banyuasin”

1.2         Tujuan
1.2.1   Tujuan Umum
Mendapatkan Informasi  mengenai Pengelolaan Kesehatan Lingkungan Berkelanjutan di Kabupaten Banyuasin.
1.2.2   Tujuan Khusus
a.       Mendapatkan informasi gambaran umum Kabupaten Banyuasin
b.      Mendapatkan Informasi tentang program-program kesehatan lingkungan yang diselenggarakan di Kabupaten Banyuasin.
c.       Mendapatkan informasi tentang kesehatan lingkungan dan faktor-kator yang mempengaruhi kesehatan lingkungan di Kabupaten Banyuasin.
d.      Mendapatkan informasi tentang  faktor penyebab permasalahan kesehatan lingkungan di Kabupaten Banyuasin.
e.       Mendapatkan Informasi tantang sistem pengelolaan kesehatan lingkungan yang diselenggarakan di Kabupaten Banyuasin.

1.3         Permasalahan
Kualitas Lingkungan yang buruk dapat mengakibatkan gangguan kesehatan di masyarakat. Tingginya angka kesakitan penyakit infeksi berbasis lingkungan masih merupakan masalah utama di Indonesia, termasuk di kabupaten banyuasin sehingga diperlukan suatu upaya yang mengarah pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat, salah satunya pengeloaan kesehatan lingkungan yang berkelanjutan di Kabupaten Banyuasin.

1.4         Batasan
Batasan penulisan makalah ini hanya fokus membahas pengelolaan kesehatan lingkungan berkelanjutan di Kabupaten Banyuasin yang mencakup faktor-kator yang mempengaruhi kesehatan lingkungan, faktor penyebab permasalahan lingkungan, program-program kesehatan lingkungan yang berkelanjutan yang diselenggarakan di Kabupaten Banyuasin. 









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA/PEMBAHASAN


2.1         Kesehatan Lingkungan
2.1.1   Konsep dan Batasan Kesehatan Lingkungan
A.    Pengertian kesehatan
1)      Menurut WHO  adalah  keadaan yang meliputi kesehatan fisik, mental, dan sosial yang tidak hanya berarti suatu keadaan yang bebas dari penyakit dan kecacatan.
2)      Menurut UU No 23 / 1992 tentang kesehatan adalah  keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

B.     Pengertian lingkungan
1)      Menurut Encyclopaedia of science & technology (1960) adalah sejumlah kondisi di luar dan mempengaruhi kehidupan dan perkembangan organisme.
2)      Menurut Encyclopaedia Americana (1974) adalah pengaruh yang ada di atas/sekeliling organisme.
3)      Menurut A.L. Slamet Riyadi (1976) adalah tempat pemukiman dengan segala sesuatunya dimana organismenya hidup beserta segala keadaan dan kondisi yang secara langsung maupun tidak dapat diduga ikut mempengaruhi tingkat kehidupan maupun kesehatan dari organisme itu.


C.     Pengertian kesehatan lingkungan
1)      Menurut HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia) adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dan lingkungannya untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan bahagia.
2)      Menurut WHO (World Health Organization) adalah suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia.
3)      Menurut kalimat yang merupakan gabungan (sintesa dari Azrul Azwar, c) Slamet Riyadi, WHO dan Sumengen) adalah upaya perlindungan, pengelolaan, dan modifikasi lingkungan yang diarahkan menuju keseimbangan ekologi pada tingkat kesejahteraan manusia yang semakin meningkat.

2.1.2   Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan
A.    Menurut WHO ada 17 ruang lingkup kesehatan lingkungan, yaitu :
1)      Penyediaan Air Minum
2)      Pengelolaan air Buangan dan pengendalian pencemaran
3)      Pembuangan Sampah Padat
4)      Pengendalian Vektor
5)      Pencegahan/pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia
6)       Higiene makanan, termasuk higiene susu
7)       Pengendalian pencemaran udara
8)       Pengendalian radiasi
9)      Kesehatan kerja
10)  Pengendalian kebisingan
11)  Perumahan dan pemukiman
12)  Aspek kesling dan transportasi udara
13)  Perencanaan daerah dan perkotaan
14)  Pencegahan kecelakaan
15)  Rekreasi umum dan pariwisata
16)  Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi/wabah, bencana alam dan perpindahan penduduk.
17)  Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan.

B.     Menurut Pasal 22 ayat (3) UU No 23 tahun 1992 ruang lingkup kesling ada 8, yaitu :
1)      Penyehatan Air dan Udara
2)      Pengamanan Limbah padat/sampah
3)      Pengamanan Limbah cair
4)      Pengamanan limbah gas
5)      Pengamanan radiasi
6)      Pengamanan kebisingan
7)      Pengamanan vektor penyakit
8)      Penyehatan dan pengamanan lainnya : Misal Pasca bencana





2.1.3   Sasaran Kesehatan Lingkungan
Adapaun sasaran kesehatan lingkungan berdasarakan pasal 22 ayat (2) UU  No 23 Tahun 1992, meliputi :
1)      Tempat umum : hotel, terminal, pasar, pertokoan, dan usaha-usaha yang sejenis
2)       Lingkungan pemukiman : rumah tinggal, asrama/yang sejenis
3)       Lingkungan kerja : perkantoran, kawasan industri/yang sejenis.
4)      Angkutan umum : kendaraan darat, laut dan udara yang digunakan untuk umum.

2.1.4   Konsep Hubungan Interaksi antara Host-Agent-Environment
A.    Tiga komponen/faktor yang berperan dalam menimbulkan penyakit Model Ecology (Jhon Gordon).
1)       Agent (Agen/penyebab)  adalah penyebab penyakit pada manusia
2)      Host (tuan Rumah/Induk semang/penjamu/pejamu) adalah manusia yang ditumpangi penyakit.
3)      Lingkungan/environmental : Segala sesuatu yang berada di luar kehidupan organisme Contoh : Lingkungan Fisik, Kimia, Biologi.
Gambar 1
Interaksi antara agent, host dan lingkungan serta model ekologinya




Environment

 
Antara agent Host dan lingkungan dalam keadaan seimbang sehingga tidak terjadi penyaki


Environment

 


Agent
 

Host

 
Peningkatan kemampuan agent untuk menginfeksi manusia serta mengakibatkan penyakit pada manusia


Agent
 


Host

 


Environment

 
Perubahan lingkungan menyebabkan meningkatnya perkembangan agent

B.     Karakteristik 3 komponen/ faktor yang berperan dalam menimbulkan penyakit
1)      Karakteristik Lingkungan
·         Fisik : Air, Udara, Tanah, Iklim, Geografis, Perumahan, Pangan, Panas, radiasi.
·         Sosial : Status sosial, agama, adat istiadat, organisasi sosial politik, dll.
·         Biologis : Mikroorganisme, serangga, binatang, tumbuh-tumbuhan.
2)      Karakteristik Agent/penyebab penyakit
Agent penyakit dapat berupa agent hidup atau agent tidak hidup. Agent penyakit dapat dikualifikasikan menjadi 5 kelompok, yaitu :
a.    Agent biologis
Tabel 1
Beberapa penyakit beserta penyebab spesifiknya
Jenis agent
Spesies agent
Nama penyakit
Metazoa
Ascaris lumbricoides
Ascariasis
Protozoa
Plasmodium vivax
Malaria Quartana
Fungi
Candida albicans
Candidiasis
Bakteri
Salmonella typhi
Typhus abdominalis
Rickettsia
Rickettsia tsutsugamushi
Scrub typhus
Virus
Virus influenza
Influenza
b.    Agent nutrien : protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, dan air.
c.    Agent fisik : suhu, kelembaban, kebisingan, radiasi, tekanan, panas.
d.   Agent chemis/kimia : eksogen contoh ; alergen,gas, debu.
   endogen contoh ; metabolit, hormon.
e.    Agent mekanis : gesekan, pukulan, tumbukan, yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan.



3)      Karakteristik Host/pejamu
Faktor manusia sangat kompleks dalam proses terjadinya penyakit dan tergantung dari karakteristik yang dimiliki oleh masing – masing individu, yakni :
·         Umur : penyakit arterosklerosis pada usia lanjut, penyakit kanker pada usia pertengahan
·          Seks : resiko kehamilan pada wanita, kanker prostat pada laki-laki
·          Ras : sickle cell anemia pada ras negro
·         Genetik : buta warna, hemofilia, diabetes, thalassemia
·         Pekerjaan : asbestosis, bysinosis.
·          Nutrisi : gizi kurang menyebabkan TBC, obesitas, diabetes
·         Status kekebalan : kekebalan terhadap penyakit virus yang tahan lama dan seumur hidup.
·          Adat istiadat : kebiasaan makan ikan mentah menyebabkan cacing hati.
·          Gaya hidup : merokok, minum alkohol
·          Psikis : stress menyebabkan hypertensi, ulkus peptikum, insomnia.

2.1.5   Masalah-masalah Kesehatan Lingkungan di Indonesia
A.      Air Bersih
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.



Syarat-syarat Kualitas Air Bersih diantaranya adalah sebagai berikut :
1)      Syarat Fisik : Tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna
2)      Syarat Kimia : Kadar Besi : maksimum yang diperbolehkan 0,3 mg/l, Kesadahan (maks 500 mg/l)
3)      Syarat Mikrobiologis : Koliform tinja/total koliform (maks 0 per 100 ml air)
Ada 4 macam klasifikasi penyakit yang berhubungan dengan air sebagai media penulran penyakit yaitu ( kusnoputranto , 1986)  :
1)      Water Borne Disease, yaitu penyakit yang penularannya melalui air yang terkontaminasi oleh bakteri pathogen dari penderita atau karier. Bila air yang mengandung kuman pathogen terminum maka dapat terjadi penjakitan pada orang yang bersangkutan, misalnya : Cholera, Typoid, Hepatitis dan Dysentri Basiler.
2)      Water Based Disease, yaitu penyakit yang ditularkan air pada orang lain melalui persediaan air sebagai pejamu (host) perantara, mislanya : Schistosomiasis.
3)      Water Washed Disease, yaitu penyakit yang disebabkan oleh kurangnya air untuk pemeliharaan kebersihan perseorangan dan air bagi kebersihan alat-alat terutama alat dapur dan alat makan, misalnya ; diare,  Cholera, Typoid, dan Dysentri Basiler.
4)      Water  Related Insect Vectors, vektor-vektor insektisida yang berhubungan dengan air, yaitu penyakit yang vektornya berkembang biak dalam air, misalnya : malaria, demam berdarah, Yellow Fever, Tryponosomiasis.

B.       Pembuangan Kotoran dan Tinja
Metode pembuangan tinja yang baik yaitu dengan jamban dengan syarat sebagai berikut :
1)        Tanah permukaan tidak boleh terjadi kontaminasi
2)        Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin memasuki mata air atau sumur
3)        Tidak boleh terkontaminasi air permukaan
4)        Tinja tidak boleh terjangkau oleh lalat dan hewan lain
5)        Tidak boleh terjadi penanganan tinja segar ; atau, bila memang benar-benar diperlukan, harus dibatasi seminimal mungkin.
6)        Jamban harus babas dari bau atau kondisi yang tidak sedap dipandang. Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tidak mahal.

C.      Kesehatan Pemukiman
Secara umum rumah dapat dikatakan sehat apabila memenuhi kriteria sebagai berikut :
1)      Memenuhi kebutuhan fisiologis, yaitu : pencahayaan, penghawaan dan ruang gerak yang cukup, terhindar dari kebisingan yang mengganggu.
2)      Memenuhi kebutuhan psikologis, yaitu : privacy yang cukup, komunikasi yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah
3)      Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakitantarpenghuni rumah dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah tangga, bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, cukup sinar matahari pagi, terlindungnya makanan dan minuman dari pencemaran, disamping pencahayaan dan penghawaan yang cukup.
4)      Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul karena keadaan luar maupun dalam rumah antara lain persyaratan garis sempadan jalan, konstruksi yang tidak mudah roboh, tidak mudah terbakar, dan tidak cenderung membuat penghuninya jatuh tergelincir.

D.      Pembuangan Sampah
Teknik pengelolaan sampah yang baik harus memperhatikan faktor-faktor/unsur :
1)   Penimbulan sampah. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi sampah adalah jumlah penduduk dan kepadatanya, tingkat aktivitas, pola kehidupan/tingkat sosial ekonomi, letak geografis, iklim, musim, dan kemajuan teknologi.
2)   Penyimpanan sampah.
3)   Pengumpulan, pengolahan dan pemanfaatan kembali.
4)   Pengangkutan
5)   Pembuangan
Dengan mengetahui unsur-unsur pengelolaan sampah, kita dapat mengetahui hubungan dan urgensinya masing-masing unsur tersebut agar kita dapat memecahkan masalah-masalah ini secara efisien.




E.       Serangga dan Binatang Penggangu
Serangga sebagai reservoir (habitat dan suvival) bibit penyakit yang kemudian disebut sebagai vektor misalnya : pinjal tikus untuk penyakit pes/sampar, Nyamuk Anopheles sp untuk penyakit Malaria, Nyamuk Aedes sp untuk Demam Berdarah Dengue (DBD), Nyamuk Culex sp untuk Penyakit Kaki Gajah/Filariasis. Penanggulangan/pencegahan dari penyakit tersebut diantaranya dengan merancang rumah/tempat pengelolaan makanan dengan rat proff (rapat tikus), Kelambu yang dicelupkan dengan pestisida untuk mencegah gigitan Nyamuk Anopheles sp, Gerakan 3 M (menguras mengubur dan menutup) tempat penampungan air untuk mencegah penyakit DBD, Penggunaan kasa pada lubang angin di rumah atau dengan pestisida untuk mencegah penyakit kaki gajah dan usaha-usaha sanitasi.
Binatang pengganggu yang dapat menularkan penyakit misalnya anjing dapat menularkan penyakit rabies/anjing gila. Kecoa dan lalat dapat menjadi perantara perpindahan bibit penyakit ke makanan sehingga menimbulakan diare. Tikus dapat menyebabkan Leptospirosis dari kencing yang dikeluarkannya yang telah terinfeksi bakteri penyebab.

F.       Makanan dan Minuman
Sasaran higene sanitasi makanan dan minuman adalah restoran, rumah makan, jasa boga dan makanan jajanan (diolah oleh pengrajin makanan di tempat penjualan dan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual bagi umum selain yang disajikan jasa boga, rumah makan/restoran, dan hotel).
Persyaratan hygiene sanitasi makanan dan minuman tempat pengelolaan makanan meliputi :
1)      Persyaratan lokasi dan bangunan
2)      Persyaratan fasilitas sanitasi
3)      Persyaratan dapur, ruang makan dan gudang makanan
4)      Persyaratan bahan makanan dan makanan jadi
5)      Persyaratan pengolahan makanan
6)      Persyaratan penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi
7)      Persyaratan peralatan yang digunakan.

G.      Pencemaran Lingkungan
Pencemaran lingkungan diantaranya pencemaran air, pencemaran tanah, pencemaran udara. Pencemaran udara dapat dibagi lagi menjadi indoor air pollution dan out door air pollution. Indoor air pollution merupakan problem perumahan/pemukiman serta gedung umum, bis kereta api, dll.
Masalah ini lebih berpotensi menjadi masalah kesehatan yang sesungguhnya, mengingat manusia cenderung berada di dalam ruangan ketimbang berada di jalanan. Diduga akibat pembakaran kayu bakar, bahan bakar rumah tangga lainnya merupakan salah satu faktor resiko timbulnya infeksi saluran pernafasan bagi anak balita. Mengenai masalah out door pollution atau pencemaran udara di luar rumah, berbagai analisis data menunjukkan bahwa ada kecenderungan peningkatan.
Beberapa penelitian menunjukkan adanya perbedaan resiko dampak pencemaran pada beberapa kelompok resiko tinggi penduduk kota dibanding pedesaan. Besar resiko relatif tersebut adalah 12,5 kali lebih besar. Keadaan ini, bagi jenis pencemar yang akumulatif, tentu akan lebih buruk di masa mendatang. Pembakaran hutan untuk dibuat lahan pertanian atau sekedar diambil kayunya ternyata membawa dampak serius, misalnya infeksi saluran pernafasan akut, iritasi pada mata, terganggunya jadual penerbangan, terganggunya ekologi hutan.

2.1.6   Penyebab Masalah Kesehatan Lingkungan di Indonesia
Adapun penyebab masalah kesehatan lingkungan di Indonesia, meliputi:
1)    Pertambahan dan kepadatan penduduk.
2)    Keanekaragaman sosial budaya dan adat istiadat dari sebagian besar penduduk
3)    Belum memadainya pelaksanaan fungsi manajemen.

2.1.7   Hubungan dan Pengaruh Kondisi Lingkungan terhadap Kesehatan Masyarakat di Perkotaan dan Pemukiman.
Contoh hubungan dan pengaruh kondisi lingkungan terhadap kesehatan masyarakat di perkotaan dan pemukiman diantaranya sebagai berikut :
1)      Urbanisasi à kepadatan kota à keterbatasan lahan à daerah slum/kumuh à sanitasi kesehatan lingkungan buruk
2)      Kegiatan di kota (industrialisasi) à menghasilkan limbah cair à dibuang tanpa pengolahan (ke sungai) à sungai dimanfaatkan untuk mandi, cuci, kakus à penyakit menular.
3)      Kegiatan di kota (lalu lintas alat transportasi à emisi gas buang (asap) à mencemari udara kota à udara tidak layak dihirup à penyakit ISPA.


2.1.8    Kabupaten/Kota Sehat (Healthy City)
Dalam tatanan desentralisasi/otonomi daerah di bidang kesehatan, pencapaian Visi Indonesia Sehat 2010 ditentukan oleh pencapaian Visi Pembangunan Kesehatan setiap provinsi (yaitu Provinsi sehat). Khusus untuk Kabupaten/Kota, penetapan indikator hendaknya mengacu kepada indikator yang tercantum dalam Standard Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan. SPM ini dimasukkan sebagai bagian dari Indikator Kabupaten/Kota Sehat. Kemudian ditambah ha-hal spesifik yang hanya dijumpai/dilaksanakan di Kabupaten/Kota yang bersangkutan. Misalnya Kota/Kabupaten yang area pertaniannya luas dicantumkan indikator pemakaian pestisida.
Di dalam SPM Kab/kota di Propinsi Jawa Tengah (Keputusan Gubernur Jawa Tengah ) pada point (huruf) “U” tentang Penyuluhan Perilaku Sehat disebutkan terdapat item Rumah Tangga Sehat (item 1), dimana disebutkan bahwa Rumah Tangga sehat adalah Proporsi Rumah Tangga yang memenuhi minimal 11 (sebelas) dari 16 indikator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan Rumah Tangga. Lima diantara 16 indikator merupakan Perilaku yang berhubungan dengan Kesehatan Lingkungan, yaitu :
1)        Menggunakan Air Bersih untuk kebutuhan sehari-hari
2)        Menggunakan jamban yang memenuhi syarat kesehatan
3)        Membuang sampah pada tempat yang disediakan
4)        Membuang air limbah pada saluran yang memenuhi syarat
5)        Mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar.



Terdapat juga Penilaian Rumah Sehat (rumah secara fisik : pencahayaan, kelembaban, ventilasi, dll). Selain Rumah Tangga sehat terdapat pula point “R” yakni P elayanan Kesehatan Lingkungan dimana item pertama (Institusi yang dibina) meliputi Rumah Sakit, Puskesmas, Sekolah, Instalasi Pengolahan Air Minum, Perkantoran, Industri Rumah Tangga dan Industri Kecil serta tempat penampungan pengungsi. Institusi yang dibina tersebut adalah unit kerja yang dalam memberikan pelayanan/jasa potensial menimbulkan resiko/dampak kesehatan.

2.1.9   Interaksi Manusia dan Lingkungannya
Secara Ilmiah manusia berinterkasi dengan lingkungannya. Manusia bernapas menghirup udara disekitarnya setiap detik. Makanan manusia diambil dari sekitarnya, demikian pula minuman dan, pakaian dan lain sebagainya. Tergantung dari taraf budayanya , manusia dapat sangat erat hubungannya dengan lingkungan hidupnya. Petumbuhan penduduk yang pesat menjadi tantangan bagi industri untuk pemenuhan kebutuhan manusia, namun disamping terpenuhinya kebutuhan ada dampak negatif yang ditimbulkan yaitu pencemaran lingkungan .
Sesuai dengan perkembangan budaya masyarakat terdapat masalah kesehatan lingkungan, angka penyakit, angka kematian, dan kesehatan yang setara dengan budaya tersebut. Semuanya ditentukan oleh interkasi manusia dengan lingkungannya






Tabel 2.
Taraf  Budaya, Pola kesehatan lingkungan, Pola Penyakit, Mortalitas dan fertilitas, Tujuan pelayanan kesehatan dan status nutrisi






.









Bagi manusia lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitarnya . bagimananpun dikelompokan pada prinsipnya  ( lingkungan air, udara, tanah, sosial, dll ) tidak dapat dipisah-pisahkan, karena tidak mempunyai batas yang nyata  dan merupakan suatu komponen ekosistem.  Pengetahuan tentang hubungan antar jenis lingkungan sanagatlah penting  agar dapat menanggulangi permasalahan lingkungan secara terpadu dan tuntas.








2.2         Pembahasan
2.2.1        Gambaran Kabupaten Banyuasin
A.    Letak Geogerafis dan Luas Wilayah
Kabupaten Banyuasin adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan. Kabupaten ini merupakan pemekaran dari  Kabupaten Musi Banyuasin yang terbentuk berdasarkan UU No. 6 Tahun 2002, terletak di pantai timur Sumatera. Wilayahnya seluas 11,832, 99 km2 (sekitar 12,18 % dari luas propinsi Sumatera Selatan).
Gambar 2. Peta Wilayah Kabupaten Banyuasin

















Kabupaten Banyuasin  terletak di antara 1,30 - 40 Lintang Selatan dan 1Mo 40' - 1050 15' Bujur Timur, dengan batas-batas wilayah administratif sebagai berikut :
·         Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Muara Jambi Provinsi Jambi dan Selat Bangka,
·          Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Air Sugihan dan Kecamatan Pampangan Kabupaten Ogan Komering llir.
·         Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Sira Pulau Padang Kabupaten Ogan Komering llir; Kota Palembang; Kecamatan Gelumbang dan Kecamatan Talang Ubi Kabupaten Muara Enim,
·         Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Lais, Kecamatan Sungai Lilin dan Kecamatan Bayung Lincir Kabupaten Musi Banyuasin,
B.           Keadaan Alam
1.      lklim dan Gurah Hujan
Wilayah Kabupaten Banyuasin memiliki iklim tropis basah dengan dua musim (hujan dan kemarau), atau tipe iklim 81 menurut klasifikasi Oldemand. Suhu rata-rata 26,f-27,40 Celcius. Kelembaban relatif 69,40lo-85,5%. Variasi curah hujan antara 1,07*13,32 mm sepanjang tahun. Rata-rata curah hujan 2,723 mm/tahun.
2.      Topografi
Sebagian besar (80%) dari wilayah Kabupaten Banyuasin memiliki topografi datar berupa lahan rawa pasang surut dan rawa lebak. Sedangkan selebihnya (20o/o) berupa lahan kering yang berombak sampai bergelombang (berbukit-bukit) dengan sebaran ketinggian antara 0-40 meter di atas permukaan laut.
Gambar 3. Bentang Alam Wilayah Banyuasin






Lahan rawa pasang surut yang terletak di sepanjang Pantai Timur sampai ke pedalaman meliputi wilayah Kecamatan Muara Sugihan, Muara Padang, Air Saleh, Makarti Jaya, Muara Telang, Banyuasin ll, Pulau Rimau, Banyuasin I, sebagian Kecamatan Talang Kelapa, sebagian Kecamatan Banyuasin III, sebagian Kecamatan Betung dan sebagian Kecamatan Tungkal llir. Selanjutnya lahan rawa lebak terdapat di Kecamatan Rantau Bayur, sebagian Kecamatan Rambutan, sebagian kecil Kecamatan Banyuasin I dan Kecamatan Banyuasin III. Sedangkan lahan kering dengan topografi agak bergelombang terdapat di sebagian besar Kecamatan Betung, Kecamatan Banyuasin III, Kecamatan Talang Kelapa serta sebagian kecil Kecamatan Rambutan

3.             Hidrologi
Berdasarkan sifat tata air, wilayah Kabupaten Banyuasin dapat dibedakan menjadi daerah dataran kering dan daerah dataran basah yang sangat dipengaruhi oleh pola aliran sungai

4.             Kependudukan
Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, penduduk Kabupaten Banyuasin pada tahun 2010 berjumlah 750.110 jiwa dengan kepadatan rata-rata 63,4 jiwa per km2. Kepadatan penduduk antar Kecamatan sangat bervariasi. Yang tertinggi kepadatan penduduknya (220,9 jiwa/Km2) adalah Kecamatan Talang Kelapa yang merupakan daerah pinggiran kota. Sedangkan yang rendah kepadatan penduduknya adalah Kecamatan-kecamatan yang berada di wilayah pesisir, sebagian wilayahnya merupakan eks pemukiman Transmigrasi.
Gambar 4.
Kepadatan Penduduk per Kecamatan di Kab. Banyuasin Tahun 2010.
Sumber : Profil Kesehatan Kab. Banyuasin Tahun 2010


2.2.2        Pengelolaan Kesehatan Lingkungan Berkelanjutan di Kabupaten Banyuasin
Kabupaten Banyuasin yang sebagian besar yaitu sekitar 80 % yang wilayahnya berupa lahan rawa pasang surut dan rawa lebak tentu memiliki resiko sebaran penyakit yang bersumber dari lingkungan yang cukup tinggi, karena udara di sekitar lingkungan rawa  tidak segar dan tingi akan faktor resiko sumber penyakit salah satunya malaria. Untuk itu Masalah lingkungan menjadi perhatian utama bagi pemerintah Kabupaten Banyuasin melalui SKPD Dinas Kesehatan Bidang Kesehatan Lingkungan berupaya untuk menangguli permasalahan kesehatan lingkungan yang terjadi diwilayah Kabupaten Banyuasin secara terpadu dan tuntas serta berkelanjutan.
Interaksi manusia dengan lingkungan hidup adalah suatu proses yang wajar sejak manusia di lahirkan di dunia sampai akhir hayatnya. Hubungan yang saling timbal balik ini tentu diharapkan adanya keseimbangan dintara keduanya.
Jumlah penduduk yang makin meningkat menuntut manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan demikian aktivitas atau kegiatan manusia dalam menghasilkan suatu produksi barang maupun sandang, pangan dan papan juga meningkat, selain menghasilkan barang untuk pemenuhan kebutuhan hidup, kegiatan ini juga menghasilkan bahan buangan, yang jika tidak diatur makan akan menimbulakan pencemaran lingkungan tersebut seperti penumpukan sampah, polusi , dan sebagainya yang berpengaruh pada kualitas lingkungan. Selain faktor tofografi Kabupaten Banyuasin yang wilayahnya rawa, hal ini juga  yang menjadi permasalahan lingkungan di Kabupaten Banyuasin, karna kualitas lingkungan yang buruk  akan mempengaruhi kualitas kesehatan masyarakat. Sebab sebagaimana kita ketahui ada empat faktor yang mempengaruhi status kesehatan yaitu Lingkungan, prilaku, pelayanan kesehatan, dan keturunan. Dan faktor yang paling dominan adalah faktor lingkungan.
Dengan demikan permasalahan kesehatan masayarakat menjadi semakin kompleks. Dan inilah pentingnya peran kesehatan lingkungan yaitu mencegah penyebaran penyakit melalui lingkungan, dengan menghilangkan penyebab-penyebab penyakit secara rasional, sitematis dan berkelanjutan.
Adapun lingkup kegiatan program kesehatan lingkungan yang diselanggarakan yaitu :
A.    Penyediaan Air Bersih
Wilayah Banyuasin yang sebagaian besar rawa dan daerah perairan menyebabkan sebagaian besar masyarakat di wilayah ini menggunakan air hujan sebagai sumber air bersih untuk keperluan sehari-hari.  Sebagaimana diketahui air hujan atau air angkasa ini bersifat lunak karena kadar mineral yang terdapat didalammnya sedikit sekali.
Ketika air itu turun melalui udara maka material yang terdapat didalam udara seperti gas (O2, CO2, dan N2) jasad renuk dan debu larut dan turun bersama-sama air hujan jatuh kepermukaan bumi hingga air ini bukan merupakn sumber air murni lagi tapi bercampur dengan partikel-partikel yang ada di udara.  (Kusnoputra, dalam Aris, 2003).
Berdasarakan data laporan UPT Puskesamas yang ada di Kabupaten Banyuasin, rumah tangga  yang mendapat air akses air bersih sebanyak 63,6% dan tidak mendapatkan akses sebanyak 36, 4% (Tahun 2010) , dan ini masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 yaitu 85%.
Berikut komposisi sumber air bersih yang digunakan rumah tangga diwilayah Kabupaten Banyuasin :
Gambar  5.
Akses Air Bersih Penduduk di Kab. Banyuasin Tahun 2010










Ket : PAH = Penampungan Air Hujan
         SGL = Sumur Gali
         SPT = Sumur Pompa Tangan
Sumber : Profil Kesehatan Kab. Banyuasin 2010

Dari Gambar diatas dapat dilihat dari penduduk yang bisa mendapatkan akses sumber air bersih, sebagian besar sumbernya berasal dari PAH (Penampungan Air Hujan) yaitu 30,1 %.
Penggunaan air yang tidak memenuhi syarat-sayarat kualitas air (fisik, kima, dan mikrobiologis), dapat menimbulkan terjadinya gangguan kesehatan berupa penyakit menular maupun tidak menular, seperti diare, cholera, typoid dan sebagainya.
Selain itu air juga dapat berperan sebagai sarang penyakit yaitu sarang insekta yang membawa sumber penyakit bagi masyarakat seperti nyamuk Aedes sp  untuk penyakit Demam berdarah Dangue (DBD), nyamuk Anophels sp untuk penyakit malaria dan Culex sp untuk filariasis.
Untuk mencegah penyakit bawaan air ini, maka kualitas badan air perlu dijaga, dengan tidak membuang limbah hasil aktivitas masyarakat ke badan air.
Untuk saat ini kegiatan yang dilaksanakan bagian kesehatan lingkungan hanya sebatas pengukuran dan pengujian kualitas air dan bentuk pelaporan jumlah rumah tangga yang mampu mengakses sumber air bersih (form pelaporan terlampir).

B.     Pengelolaan Saniatsi Dasar
Pengeloaan sarana sanitasi dasar meliputi jamban, tempat sampah,  dan saluran pembuangan air limbah (SPAL).
1.      Pengeloaan Jamban dan  Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)
Tinja dan limbah  cair yang merupakan sumber penyakit tentulah harus dijauhkan dari manusia, karena jika tidak dikelola sebagaimana mestinya akan menimbulkan masalah lingkungan dan kesehatan masyarakat. Tinja dan limbah cair yang bila mencemari badan air, sungai, ataupun danau menyebabkan air tersebut tidak layak dikonsumsi manusia. Tinja yang secara estetika tidak sedap dipandang juga menimbulkan bau yang menyengat dan tinja juga merupakan sumber penyakit karna menjadi sarang serangga seperti lalat yang bila hinggap lalu akan hinggap di makanan dan bila makanan yang sudah terkontaminasi dimakan manusia akan menyebakan sakit seperti diare.
Untuk itu diperlukannya pengelolaan  dan penanganan  tinja dan limbah cair ini secara seniter dan aman.  Artinya penanganan yang dilakukan haruslah sesuai dengan teknik dan prosedur yang sudah ditetapkan.
Dengan demikan diharapkan penanganan yang dilaksanakan semestinya akan bisa mencegah pencemaran lingkungan. Dan diharapkan pada akhirnya mendukung pelestarian lingkungan. Penanganan tinja dan limbah cair secara saniter ini merupakan salah satu kegiatan penyehatan lingkungan
Data yang dilaporkan dari Puskesmas bahwa di tahun 2010 adalah KK yang memiliki jamban keluarga sebanyak  75, 2 % dan yang jamban sehat sebanyak 64,2 %. Dan KK yang yang memilik SPAL yang sehat sebanyak 40, 3 % dari 52,6 % yang diperiksa ( Form pemeriksaan Jamban dan SPAL terlampir).
Adanya peningkatan jumlah KK yang memiliki jamban tidak terlepas dari program CLTS (Community Led Total Sanitation) yang diselanggarakan oleh Dinas Kesehatan yaitu pemberdayaan masyarakat dengan menganalisis keadaan dan resiko pencemaran lingkungan  yang disebab kan oleh buangan tinja, yaitu penghentian buang air besar sembarangan/tempat terbuka dan pembangunan serta penggunaan jamban secara mandiri tanpa subsidi.
Para sanitarian di Puskesmas diberi pelatihan, dan pada nantinya di desa pada wilayah kerjanya akan melakukan perberdayaan masyarakat sekitar untuk melakukan CLTS (Form Kegiatan CLTS terlampir).
Program CLTS ini sendiri merupakan bagian dari komponen PHBS (Prilaku Hidup Bersih dan Sehat point ke-6 yaitu jamban sehat).
Prose CLTS ini sendiri dilakuan dengan pemicuan akan rasa jijik, malu, takut, sakit, berdosa dan rasa tanggungung jawab dalam kaitannya buang air besar yang dilakukan disembarang tempat, menawarkan air yang sudah tercemar tinja dari air suangai, kebun, dan sebagainya. Diharapkan pemicuan ini masyarakat mau berkomitmen untuk melakukan perubahan perilaku ke prilaku hidup bersih dan sehat. Dan mendorong perubahan paradigma mereka semiskin apapun masyarakat itu mampu membangun jamban.
Adapun komponen yang terlibat yaitu masyarakat, fasilitator, natural leader, dan instutionalisasi.
2.      Pengelolaan Tempat Sampah
Penumpukan sampah disebarang tempat yang secara estetika tidak sedap dipandang mata dan juga menimbulkan bau juga bisa menjadi sumber penyakit yang dapat menggangu kesehatan masyarakat. Sampah yang bertebaran akan menjadi sarang lalat dan tikus, lalat tersebut akan hinggap pada makanan yang tidak ditutup kemudian dimakan dan akan menyebakan sakit diare. Bau yang tidak sedap akan menyebabkan gangguan pernapasan yaitu ISPA dan pneumonia. Untuk itu perlu adanya pengelolaan sampah secara terpadu. Adapun kegiatan penyehatan lingkungan dalam rangka pengelolaan tempat sampah yaitu kerja sama dengan dinas terkait seperti Dinas Kebersihan. Dengan menyediakan tempat pembuangan sampah sementara diberbagai sudut kota, dan adanya tempat pembuangan akhir (TPA). Selain penyedian saran fisik tersebut diadakan pula penyuluhan mengenai menjaga kebersihan lingkungan sekitar baik itu dari Puskesmas maupun Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin.
Gambar 6.
Sarana Sanitasi Dasar yang Dimiliki dan yang Sehat di Kabupaten Banyuasin Tahun 2010


Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten Banyuasin Tahun 2010







C.    Kesehatan Pemukiman
Adapun permasalahan pemukiman yang terjadi di Kabupaten Banyuasin :
1)      Di pedesaan pemukiman dan perumahan masih sangat berkaitan erat dengan budaya dan adat istiadat masyarakat setempat dan ini sering kali tidak memenuhi kondisi kesehatan lingkungan. Sebagai contoh : kandang hewan ternak sering ada di bawah rumah (rumah bertingkat) padahal menurut persyaratan rumah sehat kandang hewan peliharaan harus dijauhkan dari rumah tempat tinggal karna, akan menjadi sumber penyakit bagi penghuni rumah.
2)      Pada daerah pemukiman transmigran seperti beberapa wilayah di Kabupaten Banyuasin sebagai contoh daerah sekitar rawa. Dimana pembangunan hunian belum memperhatikan aspek kesehatan lingkungan dan belum dapat memberikan perlindungan yang baik bagi penguninya. 
Untuk itulah perlu adanya program penyehatan perumahan dan pemukiman.
Rumah sehat itu sendiri merupakan bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan diantaranya memiliki jambat sehat, adanya akses air bersih, adanya tempat pembuanagan sampah, adanya SPAL, memeliki ventilasi yang baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai dengan jumlah penghuni rumah, dan lantai tidak terbuat dari tanah.
Berdasarakan laporan dari puskesmas di Kabupaten Banyuasin tahun 2010, persentase rumah sehat yaitu sebesar 60,3 % dan angka ini masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 yaitu sebesar 80%. Masih rendahnya persentase ini dikarenakan kurangnya pemahaman sektor terkait dan masyarakat akan pemahaman konsep pembangunan berwawasan lingkungan.
Kegiatan atau upaya yang dilakukan dalam usaha penyehatan perumahan dan pemukiman diantaranya penyuluhan tentang rumah sehat dan pemeriksaan rumah sehat dan layak per triwulan yang dilakukan oleh puskesmas di wilayah kerjanya masing-masing (form terlampir).

D.    Pemeriksaan Tempat-Tempat  Umum
Tempat-tempat umum (TTU) merupakan saran fasilitas yang digunakan oleh khalayak ramai, dimana tempat ini juga harus dijaga kebersihan dan kesehatan lingkungannya. Dalam peningkatan kesehatan ini, pengelolaan kesehatan lingkungan yang dillaksanakan berupa pemeriksaan diantaranya :
1)      TTU sarana wisata seperti hotel, losmen/penginapan, kolam renang (form terlampir).
2)      TTU tempat/ rumah ibadah (form terlampir).
3)      TTU institusi sekolah meliputi TK/PAUD, SD/sederajat, SLTP/sederajat, dan SLTA/sederajat (form terlampir).
4)      TTU sarana pusat perekonomian, meliputi pasart radisional, pasar swalayan, (form terlampir), dan
5)      TTU sarana kesehatan, meliputi RS Umum, Puskesmas, PUSTU (Puskesmas Pembantu), POSKESDES (Pos Kesehatan Desa), dan klinik kesehatan. (form terlampir).
Kesemua pemeriksaan TTU ini juga diberlakukan secara berkala  yaitu per triwulan, pemeriksaan ini bertujuan apakah sarana yang sudah ada telah memenuhi syarat-syarat kesehatan lingkungan.

E.     Pengelolaan Higiene Sanitasi Makanan dan Minuman (TPM).
Makanan merupakan kebutuhan manusia, makanan berfungsi memberikan tenaga dan asupan gizi bagi tubuh kita, untuk itu perlu dijaga higiene dan sanitasinya agar makanan tersebut dapat berfungsi optimal bagi tubuh kita.
Banyaknya kasus penyalahgunaan dalam produksi bahan makanan maupun makanan jadi seperti kontaminasi pestisida pda bahan makan seperti sayuran dan buah-buahan, pemakaian bahan berbahaya pengawet seperti boraks dan formalin dan bahan pewarna tekstil yang sering digunakan untuk pewarna makanan pada makanan jadi, tentu ini sanagat merugikan masyarakat sebagai konsumen, karna dapat menyebabkan sakit. Seperti halnya makanan yang mengandung bahan pengawet ataupun pewarna tekstil jika terakumulasi di dalam tubuh, makanya akan pengakibatkan penyakit degeneratif seperti tumor dan kanker, begitu pulanya bahan makanan yang terkontaminasi pestisida.
Untuk menanngulangi permasalahan ini program pengeloaan penyehatan lingkungan yang dilakukan yaitu adanya pemeriksaan higiene sanitasi makanan, dengan sasaran seperti warung makan, restoran, rumah makan, jasa boga, industri rumah tangga, makan jajanan di sekolah-sekolah dan sebagainya.
Pemeriksaan higiene sanitasi makanan ini juga dilakukan per triwulan jadi dalam 1 tahun ada empat kali pemeriksaan.

F.     Pemeriksaan Tempat Pengelolaan dan Penyimpanan Pestisida (T2P Pestisida)
Pestisida memang sangat penting bagi peningkatan hasil pertanian dan perkebunan, dan dituntut penggunaannya harus dan mutlak secara aman, karena tidak dipungkiri pestida merupakan bahan yang berbahaya bila digunakan sembarangan.
Penggunaan yang tidak semestinya bisa menimbulakan dampak negatif baik secara langsung maupun tidak langsung bagi kesehatatan maupun bagi lingkungan.
Kabupaten banyuasin yang sebagian besar mata pecaharian penduduknya dibidang pertanian dan perkebunan tentulah menggunakan pesisida pada sektor pertanian dan perkebunannya tidak menutup kemungkinan akan terjadi keracunan pestisida untuk itu lah diperlukan adanya pengelolaan dan pengamanna pestisida sesuai dengan persyaratan.
Pengelolaan yang dilakukan bianya pemantauan dalam pengelolaan dan pengamanan pestisida baik itu di tempat penjualan/toko pertanian, koperasi desa, ataupun rumah tangga yang menyimpan pestisida (form pemeriksaan terlampir)



G.    Pemeriksaan Jentik Nyamuk
Salah satu upaya preventif yang dilakukan di puskesmas diwujudkan  dalam bentuk program Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) seperti Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Jumlah kejadian yang terus meningkat dikarenakan kurangnya prilaku masayarakat terhadap pembersihan sarang nyamuk.
Untuk itu dipelukannya program pemberantasan DBD yaitu dalam upaya pemutusan mata rantai penyakit dengan melakukan pembersihan sarang nyamuk, dengan fokus kegiatan pemantauan jentik nyamuk secara berkalan di rumah tangga dan penyuluhan 3M Plus.

H.    Program Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Adapun usaha yang dilakukan dalam menunjang upaya kesehatan lingkungan yaitu program PHBS. PHBS merupakan suatu upaya pemberdayaan anggota rumah tanggan agar secara sadar melakukan prilaku hidup bersih dan sehat
Adapun 10 prilaku yang paling penitng yang berkaitan dengan keehatan lingkungan yaitu menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, menggunakan jamban sehat, memberantas jentik nyamuk dirumah. 




BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN



3.1  Kesimpulan
Dalam rangka pencapaian misi Kabupaten Banyuasin yaitu “ menciptakan pembangunan berwawasan lingkungan untuk menjamin keberlanjutan “ dan visi Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin “ Banyuasin Sehat dan Berkualitas tahun 2013”.  . Adapun permaslahan kesehatan lingkungan di Kabupaten Banyuasin, yaitu :
1.      Wilayah Kabupaten Banyuasin yang sebagian besar merupakan daerah perairan yaitu rawa pasang surut  dan rawa lebak sangat berpotensi dan berisiko sebaran penyakit yang bersumber dari lingkungan
2.      Peningkatan jumlah penduduk berdampak meningkatnya produksi demi untuk pemenuhan kebutuhan hidup selain berdampak positif yaitu kesejahteraan masyarakat juga berdampak negatif yaitu pencemaran seperti penumpukan samapah, pestisida , limbah rumah tangga, dan limbah manusia.
3.      Masih tingginya angka rumah tangga yang tidak ada akses akan air bersih (dibawah angka target nasional) , dan sebagain besar rumah tangga yang menggunakan air PAH untuk keperluan sehari-hari juga berdampak terhadap gangguan kesehatan.
4.      Permasalahan pemukiman baik pedesaan maupun pemukiman transmigran yang belum berwawasan lingkungan.



Untuk itu diselengarakan program pengelolaan kesehatan lingkungan berkelanjutan di wilayah Kabupaten Banyuasin secara terpadu dan tuntas.  Adapun bentuk pengelolaan kesehatan lingkungan yang dilaksanakan yaitu mencakup aspek  :
1.      Penyediaan air bersih
2.      Pengelolaan sanitasi dasar, meliputi pengelolaan jamban, tempat sampah dan saluran pembuangan air limbah (SPAL)
3.      Kesehatan pemukiman
4.      Pemeriksaan tempat tempat umum (TTU), meliputi sarana wisata, tempat ibadah, institusi sekolah, sarana pusat perekonomian, dan sarana kesehatan.
5.      Pengelolaan higiene sanitasi makanan dan minuman (TPM)
6.      Pemeriksaan tempat pengelolaan dan penyimpanan pestisida (T2P Pestisida)
7.      Pemeriksaan jentik nyamuk secara berkalan
8.      Program Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

3. 2   Saran
A.  Bagi Pemerintah atau Institusi Terkait
1.      Meningkatkan manajemen atau pengelolaan kesehatan lingkungan yang lebih terencana sehingga program-prgram yang dilaksanakan dapat lebih optimal secara terpadu dan tuntas
2.      Meningkatkan kerjasama dengan institusi/ dinas terkait seperti Badan Lingkungan Hidup, Dinas Tata Kota. Dan Dinas Kebersihan sehingga pengelolaan kesehatan lingkungan yang dilaksankan akan lebih berkesinambungan dan berkelanjutan.
3.      Peningkatan pelaksanaan pemantauan kegiatan kesehatan lingkungan dan diharapkan adanya umpan balik dari pelaporan sehingga permasalahan kesehatan lingkungan dapat segera teratasi.

B.  Bagi Masyarakat
1.      Diharapkan masyarakat mau berpartisipasi untuk menjaga lingkungan sekitarnya
2.      Diharapkan masyarakat melaksanakan program prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di rumah tangganya masing-masing sehinga bisa dan mampu meningkatkan kualitas hidup mereka.






















DAFTAR PUSTAKA


Aris Wijayanto, 2003, Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Cakupan Sarana Air
Bersih di Desa Cipta Praja Kecamatan keluang Musi Banyuasin Tahun 2003,
Skripsi STIKES Abdi Nusa Palembang

Direktorat Jendral PPm dan PL. 2005 . Pedoman Teknis Penyehatan Perumahan.
Jakarta .  Depkes RI

Hasyim, Hamzah. 2008. Buku panduan PBL : Manajemen Kesehatan Lingkungan dalam
Upaya Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat. ( 2008 : 22-24). Indralaya. PSKM FK
Unsri

Mulia, Ricki M. 2005. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta. Graha Ilmu

NN, 2007. Dasar Kesehatan Lingkungan. Diakses dari
November 2011

Profil Kesehatan Kabupaten Banyuasin Tahun 2010 (2010 ; 4-17)

Pusat promosi Kesehatan. 2007. Rumah Tangga Sehat dengan Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat. Jakarta. Depkes RI

Soemirat , Juli. 2009. Kesehatan Lingkungan. Jakarta. Gadjah Mada

Solihat Eneng, dkk. 2010. Angka Harapan Hidup : Harapan Hidup Penduduk Indonesia.
2 November 2011




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar